Masjid Agung Baiturrahim Peninggalan Kerajaan Islam di Papua
Masjid Kaimana (photo: indonesia.travel)
Masjid Agung Baiturrahim peninggalan Kerajaan Islam di Papua. Papua merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia. Dengan begitu banyak kekayaan alam yang terdapat didalamnya. Mayoritas masyarakat setempat masih menganut sistem kepercayaan nenek moyang. Namun saat ini sudah masuk kepercayaan-kepercayaan seperti agama islam dan Kristen.

Masuknya agama islam di papua, masih meninggalkan beberapa sepenggal sejarah. Salah satunya adalah Masjid Agung Baiturrahim. Masjid ini merupakan peninggalan kerajaan islam di papua dan lebih akrab disebut sebagai Masjid Kaimana. Bentuk arsitek bangunan masjid ini cukup indah, sehingga menarik para wisatawan untuk mengambil gambar masjid kaimana. Masjid peninggalan kerajaan Islam Papua ini dapat dilihat di Kampung Sran, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat

Masjid Kaimana terletak tak jauh dari pelabuhan besar Kaimana. Bagian bangunan masjid ini memiliki delapan pilar berpucuk warna emas mengelilingi satu kubah utama dengan balutan warna senada. Warna bangunan masjid didominasi warna putih. Pemandangan sekitar masjid terdapat pemandangan laut serta rumah-rumah penduduk. Masjid sudah dipugar beberapa kali sehingga masih terlihat apik hingga saat ini.

Dari laman resmi Kementrian Pariwisata Masjid Agung Baiturrahman Kaimana disebut sebagai salah satu sisa peninggalan kerajaan Islam Sran Eman Muun. Kerajaan Islam yang pernah Berjaya di Pulau Adi, Laut Arafuru. Peninggalan-peninggalan lain seperti istana dan benteng tidak dapat ditemui lagi karena telah dihancurkan oleh bangsa barat saat masa penjajahan.

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Sran bernuansa agama Islam, sehingga dibangun masjid Kaimana sebagai simbol Islam saat masa itu. Saat masa perkembangan islam di sana, Raja Sran sendirilah yang menjadi imam bagi rakyatnya. Hingga abad ke-19 saat perpindahan pusat kerajaan, raja mendatangkan warga keturunan Arab dari Maluku untuk menggantikannya menjadi Imam di Kaimana. Ia mengambil kebijakan ini karena warga Kaimana saat itu belum siap untuk menjadi imam.

0 komentar:

Post a Comment